Sunday, February 27, 2022

MODUL 2.2 | Mulai Dari Diri-Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Mulai Dari Diri-Pembelajaran Sosial dan Emosional



Pembelajaran pertama pada Modul 2.1 Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah Mulai dari Diri. Dalam alur ini, CGP diajak untuk menjawab pertanyaan terkait kilas balik pengalaman sebagai guru selama ini.

Berikut ini pertanyaan-pertanyaan dan respons yang saya berikan.

Sebagai pendidik, Anda tentu pernah berada dalam suatu peristiwa yang  membuat Anda merasakan emosi-emosi positif, misalnya optimis, senang, cinta, bahagia, atau takjub, dan sebagainya. Refleksikan:

  1. Apa kejadiannya?  ⟮Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang membuat Anda memilih  merefleksikan peristiwa tersebut?) 
  2. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut? 
  3. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik?

Respons:

  • Saya merasakan emosi positif seperti senang, optimis, dan bahagia ketika siswa menunjukkan respons positif terhadap pembelajaran yang saya laksanakan di kelas. Peristiwa ini terjadi pada bulan oktober 2021, ketika pembelajaran tatap muka terbatas mulai dilakukan setelah lama siswa mengikuti PJJ. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, antusias mengikuti kegiatan diskusi, dan bersama-sama menggali pengetahuan. Peristiwa ini penting karena siswa merasakan dampak dari pembelajaran, yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
  • Saya berperan sebagai pelaku ⟮subjek). Untuk mengelola emosi tersebut, saya lebih bersemangat melakukan pembelajaran serupa di kelas lain. 
  • Peristiwa tersebut sangat berdampak bagi saya sebagai pendidik, yaitu memberikan dorongan untuk terus berinovasi dalam pembelajaran. Saya merasa tertantang untuk mengembangkan pembelajaran agar tetap berdampak positif bagi siswa. 

Saat menjadi pendidik, Anda tentu juga pernah berada dalam suatu peristiwa yang memicu emosi-emosi negatif misalnya marah,  sedih, kecewa,  menyesal, khawatir, dan sebagainya. Refleksikan:

  1. Apa kejadiannya?  ⟮Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang membuat Anda  memilih  merefleksikan peristiwa tersebut?)
  2. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut?
  3. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik? 

Respons:

  • Saya merasakan emosi negatif ketika ada siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan. Kejadian ini terjadi pada bulan agustus 2019. Seorang siswa tidak hadir berturut-turut lebih dari 1 minggu tanpa keterangan. Setelah dilakukan home visit bersama guru BK, diperoleh informasi siswa tersebut tidak bisa ke sekolah karena membantu ibu bekerja, ayahnya sudah meninggal. Setelah difasilitasi, siswa tetap tidak bisa melanjutkan pendidikan karena waktu bekerjanya bersamaan dengan waktu sekolah. Peristiwa ini penting, karena memberikan pukulan pada saya sebagai pendidik tentang keadaan ekonomi yang ada di masyarakat berpengaruh pada kesempatan memperoleh pendidikan.
  • Peran saya sebagai walikelas. Saya berupaya mencari solusi misalnya bantuan biaya sekolah. Tetapi biaya hidup siswa dan keluarganya menjadi tanggungan siswa tersebut.
  • Saya merasa kasihan dan menyesal karena siswa harus putus sekolah. Atas peristiwa ini, saya selalu berdoa agar semua siswa diberikan kelancaran dalam menghadapi masalah ekonomi. Saya juga berinisiatif menyumbang secara rutin pada yayasan yang membina anak-anak kurang mampu. 

Tulislah 1-3 kegiatan yang telah Anda pilih di atas yang paling sering Anda lakukan! Kemudian, jelaskan motivasi/tujuan Anda dalam melakukan kegiatan tersebut!

  • Memberikan kesempatan pada murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti ⟮apa yang disukai/mudah/menantang/ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan pembelajaran berikutnya). Alasan saya melakukannya adalah untuk mengetahui perasaan siswa setelah pembelajaran. Ini penting agar saya bisa menyesuaikan pembelajaran berikutnya dengan apa yang diinginkan siswa.
  • Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman. Dengan melibatkan siswa dalam membuat kesepakatan kelas, saya telah membentuk budaya positif di kelas. Aturan yang dibuat sendiri oleh siswa dan disepakati bersama akan memberikan pengaruh positif pada tingkah laku seharihari siswa, sehingga terciptanya budaya positif di kelas dan sekolah.

Berdasarkan jawaban yang Anda berikan tadi, Sejauh ini, apakah Anda sudah dapat melakukan kegiatan tersebut secara konsisten? Jika “Ya”, apakah faktor pendukungnya? Jika “Tidak”, apakah tantangan yang Anda hadapi? Apakah ada yang Anda lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut? Bagaimana hasilnya?

Respons:
Sudah dapat saya lakukan secara konsisten. Faktor pendukungnya adalah kesadaran untuk melakukan perubahan, di samping ada dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat. 

Harapan dan Ekspektasi bagi diri sendiri

Saya ingin mempelajari lebih lanjut mengenai cara-cara mengelola emosi dalam diri, dan cara membangun hubungan sosial yang baik. Setelah mempelajari modul ini, saya berharap bisa menerapkan cara mengelola hubungan baik dengan rekan sejawat dan atasan, mampu mengelola emosi dalam diri, dan menggunakan kesadaran penuh dalam mengelola emosi.

Harapan dan Ekspektasi bagi murid-murid 

Harapan bagi siswa adalah dapat mengelola emosi dengan kesadaran penuh dan mengelola hubungan sosial dengan sesama siswa, guru, masyarakat dengan baik.

Demikian pertanyaan-pertanyaan dan resons yang saya berikan terkait pengalaman sebagai guru. Somoga bermanfaat!

Wednesday, February 23, 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1 | Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1 | Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Koneksi antar materi Modul 2.1 berisikan kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana pembejaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas. Serta bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Kemudian menjelaskan keterkaitan antara materi dalam modul 2.1 dengan modul 1 di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Pertanyaan Pemantik

    Pertanyaan Pemantik untuk sesi pembelajaran ini adalah:
  • Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari apa telah saya pelajari?
  • Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?
Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut. Atau dengan kata lain Pembelajaran Berdiferensiasi adalah Pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Hal ini sesuai dengan filosofi pemikiran KHD antara lain :

  • Pendidikan harus menuntun anak mencapai kodratnya karena setiap anak adalah pribadi yang berbeda dan memiliki keunikannya masing-masing yang harus ditumbuh kembangkan sesuai dengan potensinya.

Guru harus menjadi sosok pamong yang memberi arahan dan menuntun agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Dengan Demikian pembelajaran berdiferensiasi penting untuk dilakukan dengan mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Untuk itu diperlukan usaha untuk memenuhi kebutuhan belajar individu tiap murid sesuai dengan profil belajar murid, kesiapan belajar murid dan minat belajar murid.

Pembelajaran Berdiferensiasi, Harus!

Pembelajaran berdifrensisasi perlu untuk dilakukan hal ini dikarenakan:

  • Tujuan pembelajaran didefinisikan secara jelas
  • Merespon kebutuhan belajar murid
  • lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar
  • Manajemen kelas yang efektif
  • Penilaian berkelanjutan

Hal Apa saja yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran berdifrensiasi?

Kebutuhan Belajar Murid meliputi :

  • Kesiapan belajar (readiness)

yaitu kapasitas murid untuk mempelajari materi baru.

  • Minat murid

Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.

  • Profil belajar murid

Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll

Bagaimana mewujudkan pembelajaran diferensiasi dalam pembelajaran

Pembelajaran seharusnya dirancang: guru harus memahami bakat dan potensi yang tedapat dalam diri tiap murid, guru seyogyanya melakasanakan pembelajaran sesuai kebutuhan murid agar tercapai tujuan pembelajaran, guru memberikan berbagai macam media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid karena siswa mampu memahami belajar dengan cara yang berbeda serta kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan murid untuk menghadapi tantangan zaman.

Pembelajaran dilaksanakan: Saat pembelajaran, guru harus membuat strategi pembelajaran kepada murid yang beragam. Serta media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid agar murid mudah memahami tujuan pembelajaran, pembelajaran yang diberikan juga memberikan motivasi akan potensi yang dimiliki oleh masing-masing murid agar potensi dan bakat murid dapat tumbuh dan berkembang.

Evaluasi: Guru melakukan refleksi setiap melakukan pembelajaran untuk memperbaiki tiap strategi, media, dan komunikasi saat melakukan pembelajaran kepada murid yang beragam pada tiap kelas. Serta memahami keragaman murid akan potensi yang dimiliki oleh murid.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat terwujud dengan menggunakan startegi pembelajaran sebagai berikut:

  • Diferensiasi Konten (terkait apa yang kita ajarkan pada murid)
  • Diferensiasi Proses (Mengacu padabagaimana murid memahami materi
  • Diferensiasi Produk (Terkait bukti yang menunjukkan apa yang murid telah pahami

Jelaskan bagaimana pemb-elajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Dalam proses melakukan pembelajaran berdifrensiasi , guru dapat melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid melalui tiga aspek, yaitu kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Sedangkan strategi diferensiasinya terdapat tiga strategi, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. disamping itu perlu adanya diferensiasi lingkungan belajar yang agar tercipta kenyamanan dalam belajar.

Pembelajaran berdifrensiasi dapat dilakukan melalui berbagai macam metode dan teknik pembelajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan kebutuhan belajar murid yang diperoleh dari asesmen diagnostik dan asesmen non kognitif pada murid. Hal ini perlu dilakukan karena setiap murid memiliki bakat dan minat sesuai dengan pendapat Howard Gardner berupa kecerdasan majemuk.

Guru bisa membuat perencanaan pembelajaran yang sesuai untuk kelas dan murid-muridnya. Dalam satu tujuan belajar, guru dapat menyiapkan konten belajar yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh siswa yang berbeda-beda.

Dalam Proses pembelajaran dilaksanakan dengan membedakan macam-macam bantuan belajar yang dapat mendukung murid untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya Scaffolding, coaching, serta , mentoring agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. serta melakukan diferensiasi produk belajar dengan memberikan keleluasaan siswa untuk memilih jenis produk dan cara mengomunikasikan hasil kerjanya.

Koneksi Antar Materi

Filosofi Pembelajaran KHD menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Hal ini selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi, dimana pembelajaran berorientasi kepada kebutuhan murid.

Dalam memetakan kebutuhan belajar murid dibutuhkan guru yang memiliki nilai reflektif terhadap proses pembelajaran yang sudah dilaluinya bersama murid; harus inovatif membuat media pembelajarn yang sesuai dengan kebutuhan murid; dan harus mampu berkolaborasi dengan murid, sesama guru, dan orang tua murid untuk mendapatkan informasi tentang karakter belajar murid.

Oleh karena itu agar tercipta pembelajaran berdiferensiasi, kita sebagai pendidik harus memaknai filosofi KHD dengan seksama, untuk wujdukan profil pelajar Pancasila, dengan menjalankan budaya positif, serta memahami lima kebutuhan dasar manusia dengan membedakan lima posisi kontrol kita sebagai seorang guru. Dari beberapa koneksi materi ini maka akan terwujud murid yang memiliki karkater profil pancasila, berjiwa budaya positif serta terampil sesuai kodrat zaman dan kodrat alam.






Modul 2.1 | STRATEGI PEMBELAJARAN BERDIFRENSIASI

Modul 2.1 | STRATEGI PEMBELAJARAN BERDIFRENSIASI

  1. Bagaimana saya dapat mengelola kelas untuk memenuhi kebutuhan murid secara individu?

Untuk mengelola kelas yang efektif serta memenuhi kebutuhan murid secara individu saya membentuk kelompok kecil dalam pembelajaran agar murid dapat berinterkasi dan berbagi, serta melakukan pendampingan secara individu pada murid yang mengalami kesulitan belajar.

  1. Apa yang saya ketahui tentang latar belakang murid saya, pembelajaran sebelumnya, dan perkembangan keterampilan mereka?                                                                                      Memahami latar belakang murid melalui komunikasi yang efektif dengan memahami karakteristik potensi murid serta mendorong murid untuk mengembangkan potensi dan keterampilan yang dimiliki agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

  1. Apa yang saya ketahui tentang minat murid saya (di sekolah dan di luar), motivator, dan tujuan mereka?

Minat murid saya beraneka ragam sesuai dengan karakteristik bakat dan minat serta  potensi murid. Salah satu cara untuk menumbuhkan minat dan bakat murid yaitu dengan memfasiltasi murid dengan pameran atau gelar karya serta pekan kreasi dan potensi bakat dan minat murid. Tujuan murid yaitu mengaktualisasikan diri dan mencari jati diri murid untuk itu perlu adannya sarana untuk menumbuhkembangkan potensi minat dan bakat siswa.

  1. Apa yang saya ketahui tentang profil belajar murid saya? Apa gaya belajar yang disukai oleh mereka? 

Profil belajar murid beraneka ragam serat gaya belajar mereka pun beraneka ragam dengan segala keunikan dan keistimewaan yang bervariasi.

  1. Bagaimana saya bisa menggunakan informasi tentang minat, kesiapan dan profil belajar murid saya untuk membantu saya merancang dan melaksanakan pembelajaran secara efektif? Dengan cara melakukan pembelajaran yang berdifresiasi serta pendampingan secara individu terhadap potensi minat dan bakat siswa melalui komunitas dan ekstarkurikuler.
      Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.
Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harusmemperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Bukan. Guru tentunya bukanlah malaikat bersayap atau Superman yang bisa ke sana kemari untuk berada di tempat yang berbeda-beda dalam satu waktu dan memecahkan semua permasalahan.

        Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan:
  1. Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Jadi bukan hanya guru yang perlu jelas dengan tujuan pembelajaran, namun juga muridnya.
  2. Bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya. Bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut. Misalnya, apakah ia perlu menggunakan sumber yang berbeda, cara yang berbeda, dan penugasan serta penilaian yang berbeda.
  3. Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. Kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
  4. Manajemen kelas yang efektif. Bagaimana guru menciptakan prosedur, rutinitas, metode yang memungkinkan adanya fleksibilitas. Namun juga struktur yang jelas, sehingga walaupun mungkin melakukan kegiatan yang berbeda, kelas tetap dapat berjalan secara efektif.
  5. Penilaian berkelanjutan. Bagaimana guru tersebut menggunakan informasi yang didapatkan dari proses penilaian formatif yang telah dilakukan, untuk dapat menentukan murid mana yang masih ketinggalan, atau sebaliknya, murid mana yang sudah lebih dulu mencapai tujuan belajar yang ditetapkan.

Mengidentifikasi atau Memetakan Kebutuhan Belajar Murid

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek. 
Ketiga aspek tersebut adalah:
1. Kesiapan belajar (readiness) murid
2. Minat murid
3. Profil belajar murid
Sebagai guru, kita semua tentu tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai dengan keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Lalu jika tugas-tugas tersebut memicu keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat), dan jika tugas itu memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar).

Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut.  
Ada banyak cara untuk membedakan kesiapan belajar. Tomlinson (2001: 46) mengatakan bahwa merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer pada stereo atau pemutar CD. Untuk mendapatkan kombinasi suara terbaik biasanya Anda akan menggeser-geser tombol equalizer tersebut terlebih dahulu. Saat Anda mengajar, menyesuaikan “tombol” dengan tepat untuk berbagai kebutuhan murid akan menyamakan peluang mereka untuk mendapatkan materi, jenis kegiatan dan menghasilkan produk belajar yang tepat di kelas Anda. Tombol-tombol dalam equalizer tersebut mewakili beberapa perspektif yang dapat kita gunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita hanya akan membahas 6 perspektif dari beberapa contoh perspektif  yang terdapat dalam Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (2001: 47).

Kesiapan Belajar



Tombol-tombol dalam equalizer mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. Dalam modul ini, kita akan mencoba membahas 6 dari beberapa contoh perspektif kontinum tersebut, dengan mengadaptasi alat yang disebut Equalizer yang diperkenalkan oleh Tomlinson (Tomlinson, 2001).

  1. Bersifat mendasar - Bersifat transformatif
    Saat murid dihadapkan pada sebuah ide yang baru,  yang mungkin belum dikuasainya, mereka akan membutuhkan informasi pendukung yang  jelas, sederhana, dan tidak bertele-tele untuk dapat memahami ide tersebut. Mereka juga akan perlu waktu untuk berlatih menerapkan ide-ide tersebut.  Selain itu, mereka juga membutuhkan bahan-bahan materi dan tugas-tugas yang bersifat mendasar serta disajikan dengan cara yang membantu mereka membangun landasan pemahaman yang kuat. Sebaliknya, saat murid dihadapkan pada ide-ide yang telah mereka kuasai dan pahami, tentunya mereka membutuhkan informasi yang lebih rinci dari ide tersebut. Mereka perlu melihat bagaimana ide tersebut berhubungan dengan ide-ide lain untuk menciptakan pemikiran baru. Kondisi seperti itu membutuhkan bahan dan tugas yang lebih bersifat transformatif. 

  2. Konkret - Abstrak
    Di lain kesempatan, guru mungkin dapat mengukur kesiapan belajar murid dengan melihat apakah mereka masih di tingkatan perlu belajar secara konkret atau sudah siap bergerak mempelajari sesuatu yang lebih abstrak. 

  3. Sederhana - Kompleks 
    Beberapa murid mungkin perlu bekerja dengan materi lebih sederhana dengan satu abstraksi pada satu waktu, yang lain mungkin bisa menangani kerumitan berbagai abstraksi pada satu waktu.

  4. Terstruktur - Open Ended
    Kadang-kadang murid perlu menyelesaikan tugas yang ditata dengan cukup baik untuk mereka, di mana mereka tidak memiliki terlalu banyak keputusan untuk dibuat. Namun, di waktu lain murid mungkin siap menjelajah dan menggunakan kreativitas mereka.

  5. Tergantung (dependent) - Mandiri (Independent)
    Walaupun pada akhirnya kita mengharapkan bahwa semua murid kita dapat belajar, berpikir, dan menghasilkan pekerjaan secara mandiri, namun sama seperti tinggi badan, mungkin seorang anak akan lebih cepat bertambah tinggi daripada yang lain. Dengan kata lain, beberapa murid mungkin akan siap untuk kemandirian yang lebih awal daripada yang lain.

  6. Lambat - Cepat
    Beberapa murid dengan kemampuan yang baik dalam suatu mata pelajaran mungkin perlu bergerak cepat melalui materi yang telah ia kuasai atau sedikit menantang. Tetapi di lain waktu, murid yang sama mungkin akan membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain untuk mempelajari topik yang lain.

Perlu diingat bahwa kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.  Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).
   

MINAT MURID

         Minat merupakan suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.

Tomlinson (2001: 53), mengatakan bahwa tujuan melakukan pembelajaran yang berbasis minat, diantaranya adalah sebagai berikut:                  

  • membantu murid menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan kecintaan mereka sendiri untuk belajar;
  • mendemonstrasikan keterhubungan antar semua pembelajaran;
  • menggunakan keterampilan atau ide yang dikenal murid sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang dikenal atau baru bagi mereka, dan;
  • meningkatkan motivasi murid untuk belajar.

Minat sebenarnya dapat kita lihat dalam 2 perspektif. Yang pertama sebagai minat situasional. Dalam perspektif ini, minat merupakan keadaan psikologis yang dicirikan oleh peningkatan perhatian, upaya, dan pengaruh, yang dialami pada saat tertentu. Seorang anak bisa saja tertarik saat seorang gurunya berbicara tentang topik hewan, meskipun sebenarnya ia tidak menyukai topik tentang hewan tersebut, karena gurunya berbicara dengan cara yang sangat menghibur,  menarik dan menggunakan berbagai alat bantu visual.  Yang kedua, minat juga dapat dilihat sebagai sebuah kecenderungan individu untuk terlibat dalam jangka waktu lama dengan objek atau topik tertentu. Minat ini disebut juga dengan minat individu. Seorang anak yang memang memiliki minat terhadap hewan, maka ia akan tetap tertarik untuk belajar tentang hewan meskipun mungkin saat itu guru yang mengajar sama sekali tidak membawakannya dengan cara yang menarik atau menghibur. 

Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran, maka memahami kedua perspektif tentang minat di atas akan membantu guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya dalam belajar. 

PROFIL BELAJAR MURID

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. 

Profil belajar murid terkait dengan banyak faktor. Berikut ini adalah beberapa diantaranya:

  1. Preferensi terhadap lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, apakah lingkungan belajarnya terstruktur/tidak terstruktur,  dsb.  Contohnya: mungkin ada anak yang tidak dapat belajar di ruangan yang terlalu dingin, terlalu bising, terlalu terang, dsb.  
  2. Pengaruh Budaya: santai - terstruktur, pendiam - ekspresif, personal - impersonal.
  3. Preferensi gaya belajar. Gaya belajar adalah bagaimana murid memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi baru.  Secara umum gaya belajar ada tiga, yaitu:

  • visual: belajar dengan melihat (misalnya melalui materi yang berupa gambar, menampilkan diagram, power point, catatan, peta, graphic organizer ); 
  • auditori: belajar dengan mendengar (misalnya mendengarkan penjelasan guru, membaca dengan keras, mendengarkan pendapat  saat berdiskusi, mendengarkan musik); 
  • kinestetik: belajar sambil melakukan (misalnya bergerak dan meregangkan tubuh, kegiatan hands on, dsb). 
Mengingat bahwa murid-murid kita memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, maka penting bagi guru untuk berusaha untuk menggunakan kombinasi gaya mengajar. Preferensi berdasarkan kecerdasan  majemuk (multiple  intelligences): visual-spasial, musical, bodily-kinestetik, interpersonal, intrapersonal, verbal-linguistik, naturalis, logic-matematika. 

Monday, February 14, 2022

MODUL 2.1 | Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

MODUL 2.1 |  Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

GLOSARIUM

Daring

Merupakan akronim (singkatan) dari dua kata: “dalam” dan “jaringan”. Dalam Bahasa Inggris, berarti “online”.

Diagram Frayer

Grafik visual yang dikembangkan oleh Dorothy Frayer untuk membantu murid dalam mendefinisikan konsep atau kosakata. Diagram ini dibagi menjadi empat bagian: definisi, karakteristik, contoh dan bukan contoh. 

Diferensiasi Konten

Diferensiasi konten merujuk pada strategi membedakan pengorganisasian dan format penyampaian konten. Konten adalah materi pengetahuan, konsep, dan keterampilan yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum. 

Diferensiasi Produk

Merujuk pada strategi memodifikasi produk hasil belajar murid, hasil latihan, penerapan, dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

Diferensiasi Proses

Merujuk pada strategi membedakan proses yang harus dijalani oleh murid yang dapat memungkinkan mereka untuk berlatih dan memahami isi (content) materi.

Kesiapan belajar (Readiness)

Kapasitas atau kesiapan murid untuk mempelajari materi baru. Kesiapan ini terkait dengan berbagai hal, diantaranya: pengetahuan, konsep dan keterampilan awal yang saat ini dikuasai oleh murid; miskonsepsi; tingkat perkembangan kognitif, afektif dan fisik; keterampilan berpikir, dan sebagainya.

Lingkungan Belajar

Lingkungan yang berada di sekitar seseorang dan yang mempengaruhi proses belajar mengajar.

Minat

Suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya.

Peer Teaching

Metode pembelajaran tutor sebaya yang merupakan strategi pembelajaran kooperatif dimana rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara orang-orang yang bekerja bersama.

Pembelajaran Berdiferensiasi

Usaha menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu.

Profil Belajar

Merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan lain-lain. 

Scaffolding

Suatu teknik pembelajaran di mana murid diberikan sejumlah bantuan, kemudian perlahan-lahan diadakan pengurangan terhadap bantuan tersebut hingga pada akhirnya, murid dapat menunjukkan kemandirian yang lebih besar dalam proses pembelajaran.

Ceritakan pengalaman Anda yang paling berkesan pada saat Anda melakukan proses pembelajaran di dalam kelas dengan murid yang beragam!

Saya adalah guru mata pelajaran IPA pada jenjang SMP, Pengalaman yang paling berkesan dalam proses pembelajaran di kelas dengan jumlah seluruh siswa di kelas tersebut sekitar 34 siswa dengan murid yang beragam baik dari  berbagai latar belakang, mulai dari keluarga yang kaya, menengah, dan kurang mampu serta suku, agama dan bahasa yang berbeda. Selain itu, dari  segi sifat : ada yang pemalu, riang, mudah marah, pemberani, penakut, sombong, rendah diri, dll. Dan, segi kemampuan: ada yang cepat bernalar kritis, ada yang lambat berpikir, ada yang kreatif, dll. Perbedaan tersebut menjadi hal yang unik dan istiwewa. Waktu pembelajaran IPA saat pembelajaran materi Pencemaran Air,  mereka dibagi menjadi  beberapa kelompok yang heterogen.  kemudian beberapa kelompok membuat sebuat proyek bagaimana cara menjernihkan air yang kotor/tercemar. di sini saya memberikan kebebesan kepada siswa untuk mendesain produk dan hasil projek, sehingga diperoleh hasil produk yang beragam. hal tersebut sangat berkesan bagi siswa karena siswa merancang, membuat dan menguji dari hasil desain produk yang di buat.

Apa yang telah Anda ketahui tentang pembelajaran berdiferensiasi?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid dalam hal ini guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya dan karakteristik belajar siswa. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid dalam hal ini guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya dan karakteristik belajar siswa.  pembelajaran berdiferensiasi menitikberatkan pada kemampuan guru  untuk memahami kebutuhan tiap murid, dan memahami bagaimana  mengelola kelas yang memiliki   beragam keunikan dalam diri murid. Misalnya:   tingkat  kemmapuan dan pemahaman murid. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru harus menyadari bahwa tiap murid memiliki bakat,  potensi, dan kemampuan yang berbeda. 
Oleh karena itu, guru harus bisa menentukan strategi agar pembelajaran dapat bermakna bagi murid dalam kelas yang beragam. Dan juga guru harus memahami bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya dapat memaksimalkan murid, namun juga memberikan kesempatan kepada murid untuk mempelajari berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting, mislanya nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai makna baru dari kesuksesan, kekuatan diri, kesempatan setara, kemerdekaan belajar dan berbagai nilai akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara holistik.

Perhatikan Video Berikut:

Setelah menyaksikan video di atas, menurut Anda bagaimana seharusnya pembelajaran itu dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi? (terutama untuk memenuhi kebutuhan belajar murid). 

Pembelajaran seharusnya dirancang: guru harus memahami bakat dan potensi yang tedapat dalam diri tiap murid, guru seyogyanya melakasanakan pembelajaran sesuai kebutuhan murid agar tercapai tujuan pembelajaran, guru memberikan berbagai macam media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid karena siswa mampu memahami belajar dengan cara yang berbeda serta kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan murid untuk menghadapi tantangan zaman.

Pembelajaran dilaksanakan: Saat  pembelajaran, guru harus membuat strategi pembelajaran kepada murid yang beragam. Serta media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid agar murid mudah memahami tujuan pembelajaran, pembelajaran yang diberikan juga memberikan motivasi akan potensi yang dimiliki oleh masing-masing murid agar potensi dan bakat murid dapat tumbuh dan berkembang. 

Evaluasi: Guru melakukan refleksi setiap melakukan pembelajaran untuk memperbaiki tiap strategi, media, dan komunikasi saat melakukan pembelajaran kepada murid yang beragam pada tiap kelas. Serta memahami keragaman murid akan potensi yang dimiliki oleh murid.

Apa yang ingin Anda ketahui lebih lanjut tentang pembelajaran berdiferensiasi?

implementasi pembelajaran berdifrensiasi dalam konten, proses dan produk untuk wujudkan merdeka belajar serta tumbuh kembang potensi dan bakat siswa


Wednesday, February 9, 2022

Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyat

Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

        Di modul 1.4 tentang budaya positif yang bermaterikan tentang konsep-konsep disiplin positif, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas , dan segitiga restitusi. Bahwasanya budaya positif sangat penting untuk diterapkan dan dijalankan di sekolah demi tercapainya situasi yang kondusif sehingga proses pembelajaran berjalan dengan baik.

        Dalam setiap modul yang dimulai dari filosofi pendidikan menurut KHD, nilai dan peran guru penggerak , serta visi guru penggerak berkaitan erat dengan budaya positif. Dari hubungan materi ini tujuan utama menjadikan siswa yang merdeka belajar berkarakter profil pelajar Pancasila, dengan menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif , konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya poitif di sekolah.



Pada modul 1.4 budaya positif menjelaskan tentang konsep-konsep dari :

           Disiplin Positif merupakan suatu cara penerapan nilai-nilai yang dapat memotivasi diri anak tanpa kekerasan dan ancaman dalam realisasinya pada praktiknya secara efektif. Dengan munculnya motifasi dalam diri anak ini disebut dengan istilah intrinsik, dimana anak dengan sendirinya jika melakukan salah akan mencari solusi dengan sendiri.

        Posisi Kontrol Guru Ada 5 posisi kontrol guru yaitu penghukum, pembuat orang meraa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Seorang guru pencapaian posisi manajer di mana posisi murid dapat menjadi yang mandiri, bertanggung jawab atas perilaku dan sikapnya, sehingga dapat menciptakan kondisi lingkungan yang positif, nyaman dan aman.



        Kebutuhan Dasar Manusia Ada 5 kebutuhan dasar manusia yang menjadi tolak ukur orang dalam perilaku diantaranya: kebutuhan bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan, dan kesenangan. Dengan mengidentifikasi dari kebutuhan ini kita bisa melakukan perubahan positif dengan mencari soliusi untuk berperilaku positif dari pada berperilaku negatif.

        Kenyakinan Kelas Dengan kenyakinan kelas siswa akan tergerak dan semangat untuk menjalankan keyakinannya, dari pada mengikuti peraturan yang dibuat. Karena keyakinan kelas ini dibuat dengan kesadaran siswa tanpa ada nilai negatif dalam pelaksanaannya.

Segitiga Restitusi

        Pada intinya restitusi disini utamanya adalah bagaimana kita harus bisa menghargai nilai-nilai kebijakan yang orang percayai. Ada 3 langkah yang harus bisa kita lakukan untuk mengenali perilaku orang tersebut yaitu dengan menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan menanyakan kenyakinan. Untuk pelaksaannya di sekolah siswa yang melakukan kesalahan kemudian mencari solusi untuk penguatan diri, guru dapat melakukan restitusi ini sehingga siswa dapat berfikir dan timbul perilaku positif tanpa ada paksaan dan tekanan.



        Sebagai CGP di modul 1.4 ini hendaknya mampu memahami dan menciptakan budaya positif di lingkungan sekolah maupun di luar sehinnga tercipta kondisi yg harmonis dan kondusif. Dalam pelaksanaannya budaya positif dapat dijalankan dengan cara :

  1. Memberikan keteladanan dalam sikap, kepribadian, penampilan, dan ucap kepada peserta didik dan warga sekolah baik di lingkungan sekolah atau di luar sekolah.
  2. Guru lebih fokus dan perhatian kepada siswa dalam setiap perilaku yang dikerjakan.
  3. Kesabaran dan keihklasan pendidik dalam menghadapi perbedaan karakter siswa
  4. Mensosialisasikan nilai budaya positif serta manfaatnya kepada warga sekolah.
  5. Menjalankan keyakinan secara konsisten dan ada kerja sama sesama warga sekolah.
  6. Adanya refleksi dan evaluasi proses budaya positif secara kesinambungan.

Keberhasilan dan Tantangan

        Keberhasilan dengan adanya kesepakatan kelas meliputi, murid menjadi lebih disiplin dalam belajar karena aturan kelas dibuat oleh mereka, berdasar pada sudut pandang murid. Murid berfikir positif, bahwa kesepakatan kelas sangat bermakna. Belajar lebih kondusif dengan saling mengingatkan satu sama lain. Murid mampu menempatkan diri sebagai murid dengan saling menghargai antar teman dan menghormati guru.  


        Tantangan yang dihadapi adalah kolaborasi dengan orang tua yang memiliki kesibukan dalam pekerjaan untuk mengontrol kegiatan belajar murid di rumah. Karakter murid yang berbeda-beda, tidak semua murid bertanggungjawab secara penuh terhadap kesepakatan kelas dan kurang mandiri. Menumbuhkan motivasi intrinsik tidak semudah seperti yang diungkapkan. Memahami kebutuhan dan tahap perkembangan anak tidaklah mudah. Kesepakan kelas Sangat mempertimbangkan sudut pandang murid. Hal ini dilihat dari: 1) Sangat mempertimbangkan sudut pandang murid, 2) Terdapat pernyataan yang mendukung budaya tanpa kekerasan verbal, 3) Ada pernyataan yang menunjukkan komitmen dari diri untuk menjaga kesepakatan kelas meskipun tanpa pemberian hadiah. 4) Guru memahami dan mempertimbangkan kebutuhan dan tahap perkembangan murid.