Sunday, May 8, 2022

3.1.a.10. Aksi Nyata | Aksi Nyata: Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Aksi Nyata: Praktik menjadi pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Peristiwa ( Facts )

Masa pandemi covid -19 memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran disekolah saya SMPN 2 Sukorejo, sehingga mengharuskan sekolah untuk melakukan pembelajaran menggunakan model PJJ atau daring dengan berkolaborasi bersama wali murid. Jelas ini sangat berdampak sekali pada cara belajar, sikap, dan motivasi belajar peserta didik yang menurun karena selama melakukan pembelajaran daring saya menggunakan media zoom meet, WA Grup dan aplikasi Jamboard. Namun itu semua tetap saja tidak berdampak signifikan terhadap motivasi dan prestasi peserta didik.

Sekarang ini proses pembelajaran sudah diberlakukan kembali tatap muka seperti biasa dengan moda PTMT 50% daring dan 50% Tatap Muka, hal tersebut menjadi  Dilema etika dimana saya sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu membuat keputusan yang tepat untuk mngembalikan semangat,motivasi,sikap dan prestasi peserta didik.


Perasaan ( Feelings )

Saya sebagai pemimpin pembelajaran merasa tertantang dan termotivasi untuk melakukan suatu keputusan sebagai bentuk solusi atas permasalahan yang terjadi dengan menggunakan materi serta langkah-langkah yang sudah dipelajari pada modul 3.1 ini sehingga, keputusan yang saya ambil tepat dan dapat memenuhi segala kebutuhan peserta didik.

Pembelajaran ( Findings )

Dalam proses pembelajaran ini saya mengajak peserta didik dan seluruh warga sekolah ( Kolaborasi ) untuk bersama-sama membangun kembali motivasi, semangat ,sikap dan prestasi belajar peserta didik yang selama ini menurun akibat pembelajaran daring,pada tahap inilah saya dapat mengetahui kendala, hambatan dan solusi yang tepat atas permasalahan yang terjadi sehingga nanti didapat formulasi yang tepat untuk mengatasi  masalah ini. Dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah-langkah pada materi modul 3.1 memudahkan saya dalam mengambil keputusan yang tepat.



Saya mencoba mengambil keputusan berdasarkan materi pada modul 3.1 yang sudah saya pelajari.Paradigma yang terjadi dalam kasus tersebut diatas adalah jangka pendek lawan jangka panjang ( short term vs long term ), kemudian prinsip yang saya ambil yaitu Berfikir berbasis rasa peduli ( care-based thinking ), saya mencoba menggunakan 9 langkah untuk pertimbangan bahan pengujian dan pengambilan keputusan yang akan diambil sehingga dapatlah sebuah keputusan yang tepat yaitu dengan cara melakukan pembelajaran yang kreatif, inovatif dengan memanfaatkan lingkungan sekitar atau belajar diluar kelas untuk meningkatkan semangat ,motivasi dan meningkatkan kembali prestasi belajar, kemudian menerapkan budaya positif sekolah dengan membiasakan kembali sholat duha bersama peserta didik sebagai upaya menanamkan nilai-nilai positif.  Itulah salah satu aksi nyata saya dalam mengambil sebuah keputusan berdasarkan permasalahan yang sudah dijelaskan diatas.



Penerapan ( Future )

Setelah mendapatkan keputusan yang tepat saya mencoba menerapkan solusi dari permasalahan tersebut secara rutin dan melakukan kolaborasi bersama seluruh warga sekolah guna memfasilitasi kebutuhan belajar peserta didik yang dapat meningkatkan semangat,motivasi,sikap dan prestasi secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam proses pembelajaran.



Ada dua kebenaran yang ada, adalah benar jika saya menerapkan pembelajaran yang kreatif karena sebagai bentuk cara untuk meningkatkan kembali motivasi belajar murid.

Tapi benar juga jika saya menerapkan budaya positif karena dapat membantu membentuk sikap murid dengan menanamkan nilai-nilai kebajikan universal yang berguna untuk kehidupannya.

sumber : https://www.kabarbahagia.com/ 

3.1.a.9. Blog Rangkuman Koneksi Antar materi -Modul 3.1

 

3.1.a.9. Blog Rangkuman Koneksi Antar materi -Modul 3.1

Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

 


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

KHD berpandangan, seorang pendidik hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak, serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri. Guru hanya mengarahkan bagaimana murid berkembang sesuai karakter, keunikan serta memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya.

Berdasarkan pandangan KHD terkait Pratap Triloka yang dikenal dengan semboyannya ing ngarso sung tuladha yang diartikan  sebagai seorang pemimpin dalam hal ini guru hendaknya mampu memberikan contoh/tauladan yang baik kepada muridnya, ing madya mangun karsa yang diartikan bahwa seorang pemimpin  mampu membangun karsa/kemauan atau pemberi semangat/motivasi,  dan Tut wuri Handayani yang artinya seorang pemimpin mampu memberikan dukungan, arahan, dan semangat kepada muridnya. Berdasarkan hal tersebut di atas guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat dan bijaksana serta berpihak kepada murid yang merupakan subyek dalam system pendidikan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Disadari atau tidak setiap individu termasuk juga guru memiliki nilai-nilai kebajikan yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai yang sifatnya berupa kebajikan universal meliputi hal-hal seperti keadilan, tanggung jawab, kejujuran, bersyukur, lurus hati, berprinsip, integritas, kasih sayang, rajin, komitmen, percaya diri, kesabaran, dan masih banyak lagi.

Nilai-nilai positif yang tertanam kuat dalam diri kita penting untuk dipupuk karena keputusan-keputusan yang diambil oleh seseorang  akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh orang tersebut. Dengan nilai-nilai yang dimilikinya seorang guru hendaknya menjadi rujukan atau teladan baik bagi murid maupun seluruh warga sekolah.

Dalam kesehariannya menjalankan tugas, tidak jarang seorang guru berada dalam posisi yang menuntutnya untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada pada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang tepat. Maka di sinilah nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong kita untuk mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana. Dalam pengambilan keputusan yang terbaik bagi kepentingan murid, seorang guru akan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama.

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching merupakan ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu permasalahan yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Pada konteks pembelajaran yang berpihak pada murid, coaching menjadi salah satu proses 'menuntun' kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. 

Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah, karena guru dalam hal ini sebagai coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh muridnya dengan memberi pertanyaan pemantik sehingga murid dapat menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya untuk dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dengan resiko yang paling kecil. 

Guru sebagai pendidik dan pemimimpin pembelajaran sudah sepatutnya meluangkan waktunya untuk menjalankan proses coaching demi terciptanya iklim pendidikan yang berpihak pada murid .

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran di kelas sudah seyogyanya harus bisa mengetahui dan memahami kondisi sosial dan emosional dari muridnya. Selain itu untuk dapat membentuk dan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, seorang murid harus mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajar sehingga tidak menjadi dilema bagi mereka untuk sekarang maupun yang akan datang. Guru juga penting untuk  memahami aspek sosial dan emosionalnya agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan pembelajaran baik di kelas maupun di lingkungan sekolah.   

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

 Ketika seorang guru dihadapkan pada kasus yang berkaitan dengan dilema etika maupun bujukan moral maka diperlukan ketrampilan berhubungan sosial untuk mengambil suatu keputusan yang tepat. Dalam hal ini andai saya dihadapkan dengan suatu kasus dilema etika, maka saya akan melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dan berusaha menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan, 4 paradigma dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan, di mana dasar dari keseluruhannya adalah nilai-nilai yang saya miliki.

 Nilai-nilai dalam diri seorang guru akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar, dapat dipertanggung jawabkan, dan dilakukan demi kebaikan orang banyak. Sebaliknya  jika seorang guru belum memiliki nilai-nilai yang positif atau sudah kehilangan idealismenya sebagai seorang guru maka keputusan yang diambil akan cenderung digunakan untuk mengutamakan kepentingan pribadi atau golongan dan tidak dapat dipertanggung jawabkan.

 6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara cermat dan terlebih dahulu menganalisis berbagai aspek dan sudut pandang. Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada lingkungan yang nyaman, aman, positif, dan kondusif karena kita sebagai pemimpin pembelajaran mengambil keputusan yang tepat yang dapat berdampak positif bagi banyak pihak yang ada disekolah/lingkungan asal. 

Hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali terelebih dahulu kasus yang terjadi apakah kasus atau permasalahan tersebut termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Kemudian pengambilan keputusan ini dapat dilakukan dengan  mempertimbangkan empat paradigma dilema etika. Kita harus melihat terlebih dahulu paradigma dilema etika apa yang sedang terjadi? Apakah paradigma dilema etika individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka Panjang. 

Kita juga harus melihat prisip pengambilan keputusan yang paling tepat, apakah Rule-based Thingking, Apakah End-based Thingking dan apakah Care-based Thingking. Selanjutnya keputusan tersebut haruslah diambil dengan menggunakan langkah-langkah pengambilan dan pengusian keputusan yang benar, sehingga pada akhirnya guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran  mampu menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk murid dan lingkungan sekolahnya.

7. Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Sebagai seorang guru tentunya mengalami dan diperhadapkan dengan berbagai permasalahan dari waktu ke waktu yang menuntut dilakukannya pengambilan sebuah keputusan. Permasalahan dan situasi yang dihadapi perlu untuk dicermati dan dianalisis dengan seksama agar kita tidak terjebak pada pengambilan suatu keputusan yang salah karena kurang mampu dalam menelaah situasi yang dihadapi secara jelas apakah termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Ketika dihadapkan dengan situasi dilema etika tentu adakalanya kita mengalami kesulitan-kesulitan dalam menjalankan pengambilan keputusan tersebut. Kesulitan muncul bisa disebabkan karena berbagai faktor misalnya, karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, masih minimnya pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki dalam menyelesaikan situasi permasalahan yang dihadapi, kekhawatiran apakah keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat dan dapat mengakomodir kepentingan orang banyak serta tidak mencederai pihak lainnya, dan adanya perbedaan mindset dan sudut pandang yang menyebabkan sulitnya menemukan solusi atau kesepakatan yang dapat diterima oleh setiap pihak yang terlibat.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu akan mempengaruhi pola pengajaran yang kita lakukan terhadap murid. Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu keputusan yang diambil sebagai bentuk proses dalam menuntun murid untuk merdeka, tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat alam, zaman dan potensi yang dimilikinya. Hendaknya guru memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan bakat dan potensi yang dimiliknya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain, karena pada dasarnya tujuan pembelajaran adalah dapat memberikan keselamatan dan kebahagian pada murid.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kita harus benar- benar memperhatikan kebutuhan belajar murid. Dengan keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan murid maka murid dapat menggali potensi yang ada dalam dirinya dan kita sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan pembelajaran yang sesuai denga kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. Sehingga dengan memperhatikan kesemua itu dalam mengambil keputusan maka keputusan kita dapat berpengaruh terhadap keberhasilan dari murid di masa depannya nanti.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Pembelajaran dan pengalaman yang saya peroleh dari mempelajari modul 3.1 terkait Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah bahwa seorang pendidik merupakan pilar utama dalam dunia pendidikan yang berinteraksi langsung dengan murid sehingga sering diperhadapkan oleh situasi dan problematika yang mengharuskan dilakukannya pengambilan keputusan. Tentunya harapan dari pengambilan keputusan yang dilakukan ini bukanlah suatu keputusan gegabah dan terburu-buru, yang kemudian tidak mempertimbangkan konsekuensi dan situasi tak terduga lainnya di masa depan serta mencederai pihak lainnya. Pengambilan keputusan yang dilakukan merupakan rangkaian proses yang harus dilakukan dengan penuh cermat dan  kehati-hatian dalam menentukan sikap dan langkah tindakan dari berbagai kemungkinan situasi yang ada.

Adapun dengan modul-modul sebelumnya, pembelajaran pada modul ini merupakan suatu yang saling berkaitan. Sebagaimana dijelaskan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dalam kebahagiaan yang setinggi-tinginya, baik untuk dirinya sendiri, sekolah, maupun masyarakat. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru harus mampu melihat dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

 

 

 

 

Saturday, April 30, 2022

25 Twibon Idul Fitri Simple -Modern yang bisa digunakan secara gratis yuk gunakan bersama

25 Twibon Idul Fitri Simple - Modern yang bisa digunakan secara gratis 

Idul Fitri 2022 / Idul Fitri 1443 H diharapkan dirayakan secara serentak oleh NU, Muhammadiyah, Persis dan pemerintah. Mari Kita rayakan Idul Fitri 1 Syawal 1443 H dengan Twibbon Idul Fitri.







Twibbon Eid adalah kartu Idul Fitri digital. Praktis banget, di saat senggang itu kamu bisa sampai di tempat tujuan karena dikirim via handphone.

Dan tentunya Twibbon Idul Fitri sangat mudah digunakan tanpa perlu aplikasi tambahan. Anda dapat mengunggah foto Anda dalam berbagai pilihan bingkai yang menarik dan menarik.

Di bawah artikel ini terdapat 25 link Twibbon Idul Fitri 2022/1 Syawal 1443 H dengan desain cantik yang bisa langsung Anda download secara gratis.

Namun sebelum Anda mendownload Link Twibbon, pelajari cara menggunakannya sebagai berikut:

Cara download dan install link Twibbon Idul Fitri 2022 / Idul Fitri 1 Syawal 1443 H

  • Klik salah satu link twibbon Idul Fitri yang anda pilih dibawah
  • Klik "Pilih Foto", lalu pilih foto yang akan Anda gunakan untuk twibbon Idul Fitri
  • Pilih "OK", lalu tarik foto dan arahkan sesuai dengan posisi bingkai
  • Jika Anda mengklik kanan "Next" tunggu proses instalasi selesai
  • Setelah selesai, klik "unduh" foto Anda akan otomatis disimpan di galeri

Berikut  25  Link Twibbon Lebaran 2022 / Idul Fitri 1443 H

  1. twb.nz/pasuruan1443 
  2. twb.nz/spendus1433
  3. twb.nz/twiboniedulfitri1443h
  4. https://www.twibbonize.com/idulfitri1443hijriah
  5. https://www.twibbonize.com/twibontahunidulfitriok
  6. https://www.twibbonize.com/eidmubr
  7. https://www.twibbonize.com/fitri2022-03
  8. https://www.twibbonize.com/idulfitri-kampanye
  9. https://www.twibbonize.com/lebaran1443h
  10. https://www.twibbonize.com/kartuidulfitrieva
  11. https://www.twibbonize.com/twiboniedulfitri1443h
  12. https://www.twibbonize.com/url-idulfitri1443h
  13. https://www.twibbonize.com/ucapankeluargawulan
  14. https://www.twibbonize.com/ucapanidulfitrielegant
  15. https://www.twibbonize.com/twibonidulfitri1443h
  16. https://www.twibbonize.com/idulfitri20222
  17. https://www.twibbonize.com/idmubarok1443
  18. https://www.twibbonize.com/idulfitrideh
  19. https://www.twibbonize.com/url-idulfitrikediri
  20. https://www.twibbonize.com/ucapanidulfitri1443h
  21. https://www.twibbonize.com/idulfitriberka
  22. https://www.twibbonize.com/idulfitri1443h-22
  23. https://www.twibbonize.com/idulfitri1443ppsp86
  24. https://www.twibbonize.com/idulfitri2022yaaa
  25. https://www.twibbonize.com/semarakidulfitri22
  26. https://www.twibbonize.com/idulfitri-2022
  27. https://www.twibbonize.com/uasdgp21andriadinayusafutri4201929018
  28. https://www.twibbonize.com/idulfitrii-5

Friday, March 11, 2022

Modul 2.2.A.6. Refleksi Terbimbing | GURU PENGGERAK ANGKATAN IV

Modul 2.2.A.6. Refleksi Terbimbing | GURU PENGGERAK ANGKATAN IV 



Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)


Sebutkan 3 hal menarik yang telah Anda pelajari! Kemukakan dengan alasan atau contoh berupa gambar/foto untuk memperjelas jawaban Anda.
  • Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting. Pembelajaran ini berisi keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan anak untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, juga untuk mengajarkan mereka menjadi orang yang berkarakter baik. Selaras dengan pemikiran Bapak Ki Hajar Dewantara, Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh adalah upaya untuk menciptakan ekosistem sekolah yang mendorong bertumbuhnya budi pekerti, selain aspek intelektual.
  • Pembelajaran Sosial Emosional berdasarkan kerangka CASEL bertujuan untuk menumbuhakan Kompetensi Sosial Emosional, yaitu: (1) memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (kesadaran diri); (2) Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri); (3) Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial); (4) membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan membangun relasi); dan (5) Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab).
  • Kesadaran penuh (mindfulness) muncul saat seorang sadar sepenuhnya pada apa yang sedang dikerjakan, atau dalam situasi yang menghendaki perhatian yang penuh. Kesadaran penuh (mindfulness) dapat dilatih dan ditumbuhkan melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah latihan menyadari nafas. Latihan berkesadaran penuh (mindfulness) dapat membangun keterhubungan diri sendiri (self-awareness) dengan berbagai kompetensi emosi dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, sebelum memberikan respon dalam sebuah situasi sosial yang menantang, kita berhenti, bernafas dengan sadar, mengamati pikiran, perasaan diri sendiri maupun orang lain, dan mengambil tindakan yang lebih responsif, bukan reaktif.

Sebutkan 2 hal penting yang Anda pelajari! Kemukakan dengan alasan atau contoh berupa gambar/foto untuk memperjelas jawaban Anda.

  • Pembelajaran Sosial Emosional berdasarkan kerangka CASEL bertujuan untuk menumbuhakan Kompetensi Sosial Emosional pada peserta didik agar terbentuk karakter yang baik dan mampu beradaptasi dalam lingkungan sosial cultural lingkungan sekolah
  • Pembelajaran sosial dan emosional dapat diberikan dalam tiga ruang lingkup: (1) Rutin: pada saat kondisi yang sudah ditentukan di luar waktu belajar akademik, (2) Terintegrasi dalam mata pelajaran: misalnya melakukan refleksi setelah menyelesaikan sebuah topik pembelajaran, membuat diskusi kasus atau kerja kelompok untuk memecahkan masalah, dll; (3) Protokol menjadi budaya atau aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi atau kejadian tertentu.

Sebutkan 1 hal yang Anda ingin coba dan terapkan dalam kelas! Jelaskan alasan Anda!

Saya ingin konsisten menerapkan latihan mindfulness melalui latihan menyadari nafas (mindful breathing). Latihan menyadari nafas dapat dilakukan dengan mudah oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Mengapa penting untuk menyadari nafas? Karena napas adalah jangkar yang dimiliki setiap orang untuk berada di sini dan masa sekarang (here and now) dan melatih untuk memahami diri sendiri, lingkungan dan menstabilkan emosi.




Thursday, March 3, 2022

Studi Kasus 5 | 2.2.a.4.1.e. Eksplorasi Konsep - Kasus 5

Studi Kasus 5 |   2.2.a.4.1.e. Eksplorasi Konsep - Kasus 5

2.2.a.4.1.e. Eksplorasi Konsep - Kasus 5





Pengantar:
Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 
Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Setelah bekerja selama 5 tahun di sekolah yang sama, Bapak Eling merasa mulai kewalahan dengan berbagai tanggung jawab tambahan yang harus dijalankan. Bapak Eling mendapatkan tanggung jawab ekstra karena dipercaya oleh kepala sekolah. Kepala sekolah melihat pengalaman Bapak Eling sudah jauh lebih banyak dibandingkan guru-guru yang lain. Itu sebabnya, Bapak Eling diminta untuk menjadi penanggung jawab beberapa  acara penting di sekolah, menjadi wakil sekolah di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Awalnya Bapak Eling merasa tugas tambahan tersebut sangat menantang. Namun saat ini, dia tidak merasa tertantang lagi. Ditambah dirinya merasa bahwa akhir-akhir ini, kinerjanya sebagai guru juga semakin menurun. Karena itu, Bapak Eling terpikir untuk menulis surat pengunduran diri. 


1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling ? 

Merasa capek karena beliau harus mengerjakan banyak tugas tambahan diluar tugas utamanya sebagai guru. 

Merasa bosan, karena harus mengerjakan rutinitas tugas tambahan yang hampir sama sedangkan guru lainnya tidak mendapatkan tugas sebanyak beliau. 

Merasa bingung, karena Pak Eling tidak percaya diri dalam menentukan skala prioritas dalam menyelesaikan berbagai macam tugas yang sedang diembannya. 

Merasa kecewa karena tidak ada dukungan dari stakeholder untuk membantu dalam mengemban tugas tambahan

Merasa khawatir, karena sebetulnya beliau memahami tugas utamanya adalah mengajar tapi sering terbengkalai karena harus mengerjakan tugas tambahan lainnya. 

2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut ? 

Pengenalan diri / Pengelolaan Diri – memahami bahwa tim yang solid dan komunikasi yang baik akan menyelesaikan multitasking yang diberikan, serta belajar untuk menentukan skala prioritas pekerjaan, tupoksi serta bijaksana dalam manajemen waktu. 

Kesadaran Diri – melakuakn refleksi secara mandiri, dan sharing terhadap teman sejawat/TIM untuk saling menguatkan, menerima solusi dan saran terhadap masalah yang dihadapi. 

Melakukan STOP untuk mengembalikan kesadaran diri sepenuhnya terhadap keputusan yang akan dibuat. Dengan menganalisan dengan BAGJA terhadap kekuatan TIM dan teman sejawat yang mendukungnnya

Kesadaran Sosial –Menganalisis peran yang diberikan di sekolah dan tugas tugas tambahan yang diberikan dengan senantiasa mengkomunikan dengan TIM dan teman sejawat untuk mencipatkan iklim sekolah yang kondusif. 

Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik Pak Eling diberikan kepercayaan yang over sehingga multitasking, semua pekerjaan akan teratasi dengan baik jika beliau memiliki komunikasi yang positif antar TIM. Untuk itu kemampuan komunikasi dan hubungan personal yang saling menguntungkan harus terus dibina dan dikembangkan oleh Pak Eling.

3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?

Melakukan komunikasi personal emosional, Mindfullness melalui STOP dan analisa BAGJA pada sebuah tujuan dan impian bersama untuk memajukan sekolah serta melakukan komunikasi asertif pada TIM dan Atasan sehingga tercipta percaya diri terhadap beban kerja yang diberikan hal ini dilakukan agar iklim sekolah tetap kondusif disamping itu melakukan kaderisasi dengan guru lain melalui pembinaan secara kontinu agar tugas tambahan bisa di alihkan kepada guru yang kompeten melalui sistem kaderisasi sehingga tugas utama sebagai guru dapat normal kembali.

 

STUDI KASUS 4 | 2.2.a.4.1.d. Eksplorasi Konsep - Kasus 4

STUDI KASUS 4  |  2.2.a.4.1.d. Eksplorasi Konsep - Kasus 4

2.2.a.4.1.d. Eksplorasi Konsep - Kasus 4







Pengantar:

Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 
Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.
Setelah selesai memeriksa proposal acara 17 Agustus, Bapak Eling mengirimkan proposal tersebut kepada kepala sekolah. Ternyata proposal yang dikirimkan oleh Bapak Eling dinilai tidak sesuai oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah meminta agar isinya sesuai dengan pengarahan awal yaitu agar acara lebih banyak melibatkan orang tua murid. Bapak Eling tidak menyangka jika dia harus melakukan koreksi dan koordinasi ulang dengan tim acara. Revisi proposal tentu akan memakan waktu lagi dan Bapak Eling sudah membayangkan ini akan menghambat tugas-tugasnya yang lain. Bapak Eling mengungkapkan hal ini kepada wakil ketua panitia. Bapak Eling mengungkapkan bahwa dia tidak mau mengubah proposal dan meminta Wakil  Ketua Panitia tersebut yang merevisi proposal.

1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling ? Mohon uraikan dengan singkat, padat, dan jelas. 

Merasa kecewa karena ternyata proposalnya tidak diterima oleh kepala sekolah

Merasa lelah karena sudah mengerjakan proposal 17 Agustus bahkan mengerjakan di sela-sela sambil mengerjakan tugas-tugas penting lainnya sebagai guru. 

2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut ? 

Pengenalan Diri / Pengelolaan Diri – Memahami posisi beliau sebagai guru yang memiliki atasan yaitu kepala sekolah. 

Kesadaran Diri – Melakukan STOP untuk relaksasi terhadap kondisi pikiran yang merasa kecewa dan memahami draft kegiatan acara 17 Agustus bersama dengan tim untuk melakukan revisi  pada proposal sehingga kedepannya mendapatkan kesepakatan win – win solution. 

Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik Keterampilan mengelola tugas dan peran dalam kelompok. Melakukan kolaborasi dalam membuat revisi proposal sesuai dengan kesepakatan awal dengan banyak melibatkan wali murid, dan mengkomunikasikan kepada kepala sekolah dengan TIM Inti sekaligus mempertanggung jawabkan dan menyampaikan alasan yang tepat dan masuk akal yang sekiranya bisa diterima oleh kepala sekolah. 

3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan ?  mencari benang merah kesalahan proposal dan memahami seksama terhadap proposal yang telah dibuat bersama Tim dan Saling memperkuat dan memotivasi bahwa semua akan baik – baik saja, serta menebarkan getaran positif ke anggota agar tidak muncul kegaduhan dalam tim.

 

STUDI KASUS 3 | 2.2.a.4.1.c. Eksplorasi Konsep - Kasus 3

STUDI KASUS 3  |  2.2.a.4.1.c. Eksplorasi Konsep - Kasus 3

2.2.a.4.1.c. Eksplorasi Konsep - Kasus 3





Pengantar:
Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 
Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

Saat mempelajari proposal acara 17 Agustus di antara jam mengajar dan mengoreksi pekerjaan murid-murid, Bapak Eling menyadari salah seorang murid kelas 10 yang berprestasi dalam kejuaraan renang tidak mengumpulkan tugasnya. Pak Eling memanggil murid tersebut. Murid tersebut mengungkapkan pada Bapak Eling bahwa dia sebenarnya merasakan lelah dan mengantuk saat berada di dalam kelas maupun di rumah karena latihan keras menjelang kejuaraan bulan depan. Bapak Eling menilai, seharusnya murid tersebut bekerja lebih keras sebagai konsekuensi dari pilihannya menjadi murid atlet.


1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling ? 

Merasa capek karena mengerjakan overtask dalam tugas utamanya sebagai guru (mengecek proposal 17 Agustus, mengajar dan mengoreksi pekerjaan murid). 

Merasa kecewa karena ada siswa sekaligus atlet berprestasi tidak mengumpulkan tugas sesuai instruksi yang diberikan Pak Eling. 

Merasa bingung, karena dalam waktu bersamaan harus mengerjakan tugas sebagai guru, ada siswa berprestasi bermasalah, serta koresksi proposal sehingga skala prioritas terhadap suatu pekerjaan terabaikan. 

2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut ? Jelaskan jawaban Anda. 

Pengenalan diri / Pengelolaan Diri – Pak Eling merupakan guru multitasking, akan tetapi perlu memahami perlunya skala prioritas dan posisi diri sebagai pengajar maka yang menjadi fokus pada kegiatan belajar mengajar

Kesadaran Diri – Memahami sepenuh hati bahwa guru adalah ing ngarso sung tuladha, berupa memberi contoh dan ing madyo mangun karsa yaitu memotivasi dan tut wuri handayani mendoring siswa untuk berkarya. 

Kesadaran Sosial – Keterampilan Berempati dengan memahami filosofi Ki hajar dewantara yaitu memberikan motivasi kepada siswa yang berprestasi serta melalkukan segitiga restitusi untuk mengembalikan emosi dan semangat siswa untuk senantias berprestasi

3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan ? 

Saya akan memahami situasi yang dihadapi murid melalui segitiga restitusi untuk mengembalikan jati diri Murid dan menguatkan kesepakapatan kelas agar budaya positif dalam menanamkan sikap tanggung jawab dan disiplin tetap terjaga.

 

STUDI KASUS 2 I 2.2.a.4.1.b. Eksplorasi Konsep - Kasus 2

 STUDI KASUS 2 | 2.2.a.4.1.b. Eksplorasi Konsep - Kasus 2



Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.


STUDI KASUS 2

Selesai kegiatan belajar mengajar berakhir, Bapak Eling memimpin rapat panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Pak Eling untuk mempelajari perubahan proposal acara. Pak Eling perlu memastikan semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat. Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal disetujui oleh kepala sekolah. Oleh karena itu, Bapak Eling diminta untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat – lambatnya lusa. Karena mendahulukan proposal ini, Bapak Eling pun lupa menyiapkan rubrik untuk pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Bapak Eling, masuk kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran sempat tersendat.


1.      Apakah situasi yang dihadapi  Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat, padat, dan jelas.

Pak Eling  merasa bingung, karena dalam waktu yang hampir bersamaan harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang dirasa sama-sama penting. Selain itu Pak Eling mengalami kelelahan sehingga menjadi kurang fokus.

2.      Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan?

·         Pengenalan diri  :memahami peran sebagai guru, hal ini bisa dilakuakan dengan manajemen waktu dan manajemen relasi dalam menyelesesaikan tugas secara kolaboratif, sehingga Pak Eling sendiri bisa mengelola kelas secara profesional.

·         Kesadaran Diri - membuat skala prioritas dalam menyelesaikan terhadap suatu tugas yang diberikan baik tugas utama atau pun tugas tambahan.

·         Melakukan relaksasi dengan STOP (berhenti sejenak, tarik nafas, amati apa yang sedang terjadi baik yang terjadi pada diri sendiri atau keadaan disekelilingnya, baru melanjutkan aktifitas selanjutnya) untuk mengembalikan kesadaran diri sepenuhnya pada saat ini.

·         Keterampilan Berelasi – Kerja Sama dan Resolusi Konflik yaitu Keterampilan mengelola tugas dan peran dalam mengerjakan tugas secara berkolaborasi sesuai tupoksi kepanitiaan sehingga semua orang harus mengerjakan tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

3.      Apa kompetensi sosial dan emosional yang diperlukan  Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan kerangka atau panduan yang ada di artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya)

·         Mengkondisikan pembelajaran agar tidak tersendat dan kondusif, yaitu meminta murid untuk menyiapkan alat dan bahan untuk kebutuhan pembuatan proyek dan mereview materi sebelumnya terlebih dahulu sembari saya menyiapkan dan mendownload rubrik penilaian, sehingga kelas tetap kondusif dan rubrik penilaian pun tetap bisa disiapkan.

·         Melakukan tupoksi kepanitiaan secara proporsional sehingga tugas utama dan tambahan dapat berjalan selaras dan seirama 

STUDI KASUS 1 | 2.2.a.4.1.a. Eksplorasi Konsep - Kasus 1

 STUDI KASUS 1 | 2.2.a.4.1.a. Eksplorasi Konsep - Kasus 1



Bapak Eling telah menjadi guru selama lebih dari 5 tahun. Suatu pagi, Bapak Eling merasakan tubuhnya seakan berat untuk bangun dari tidurnya. Dia juga merasa berat untuk berdiri dan bergerak berangkat menuju sekolah. Akhir–akhir ini pun selama berada di dalam kelas, Bapak Eling sering tiba-tiba merasakan jantungnya berdetak cepat. Pikirannya bercabang-cabang, dan ia sering merasakan dirinya mengalami kecemasan. Saat ini memang selain sibuk mengajar, Bapak Eling juga harus menjadi ketua panitia perayaan 17 Agustus yang akan dilaksanakan di sekolahnya 1 bulan lagi.  Berikut 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca. 

Berikut kasus yang terjadi pada Bapak Eling yang pada akhir-akhir ini. Bacalah dan lakukan refleksi setelah membaca.

    Saat itu jam pelajaran terakhir. Sebelum rapat panitia besar 17 Agustus untuk memfinalisasi acara, Bapak Eling masuk ke kelas 9 untuk mengajar mata pelajaran geografi. Sejak pagi, Bapak Eling sudah mengajar 3 kelas yang berbeda secara berurutan. Pada pelajaran ini, anak-anak diizinkan menggunakan gawai mereka untuk mengerjakan proyek kelompok. Setelah beberapa saat Bapak Eling melakukan pengecekan apakah setiap murid bekerja sesuai tugas dan tanggung jawab mereka. Saat mendekati meja salah satu siswa, Diana, 

Pak Eling mendapati muridnya itu sedang menggunakan gawainya untuk mengerjakan tugas pelajaran lain. Bapak Eling spontan mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi. “Jadi ini yang dari tadi kamu lakukan?”  Seisi ruang kelas terkejut.  Wajah Diana memerah.  Ia tampak malu dan tidak menyangka Bapak Eling merespon sekeras itu.


Studi Kasus 1

1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling ? Mohon uraikan dengan singkat dan jelas. 

Menurut pendapat saya Bapak Eling mengalami stres yang disebabkan overtask yang diperoleh sehingga menyebabkan kelelahan dan emosi menjadi tidak stabil saat kegiatan pembelajaran di kelas. 

Merasa kecewa karena Diana tidak mengerjakan tugas sesuai instruksi yang diberikan Pak Eling 

Merasa khawatir jika hasil rapatnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. 

2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang dibutuhkan Bapak Eling dalam menghadapi  masalah tersebut ? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan artikel – artikel yang telah dibaca sebelumnya) 

Kompetensi sosial emosional yang dibutuhkan Pak Eling adalah: 

Pengenalan diri berupa Pengelolaan Diri Mengelola Emosi dan Fokus untuk Mencapai Tujuan; hal ini dibutuhkan Pak Eling untuk bisa fokus pada apa yang sedang dihadapi dan apa yang dikerjaan saat itu, yaitu sebagai guru yang profesional. 

Kesadaran Diri dengan cara melakukan refleksi kepada diri sendiri terlebih dahulu apa yang sedang dia rasakan saat menghadapi murid teresebut, apakah merasa capek, kecewa, atau khawatir. 

Kompetensi sosial emosional melalui metode STOP (berhenti sejenak, tarik nafas, amati apa yang sedang terjadi baik yang terjadi pada diri sendiri atau keadaan disekelilingnya, baru melanjutkan aktifitas selanjutnya) 

Kesadaran Sosial – Keterampilan Berempati Jika Pak Eling sudah memiliki pemahaman dan kemampuan mengenal serta mengelola diri sendiri, dengan cara membangun kemampuan untuk menempatkan diri dan melihat perspektif orang lain

3. Seandinya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan ? 

Saya akan mengontrol emosi saya melalui teknik STOP dan memberikan pemahaman ke diri sendiri bahwa saat ini saya sedang menjalankan peran tugas mengajar. Pada saat peserta didik lain sudah keluar ruangan, saya akan mengingatkan kembali kesepakatan kelas, segitiga restitusi dan meminta melakukan konsekuensi sesuai dengan kesepakatan kelas yang sudah disetujui bersama.

 

Sunday, February 27, 2022

MODUL 2.2 | Mulai Dari Diri-Pembelajaran Sosial dan Emosional

 

Mulai Dari Diri-Pembelajaran Sosial dan Emosional



Pembelajaran pertama pada Modul 2.1 Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah Mulai dari Diri. Dalam alur ini, CGP diajak untuk menjawab pertanyaan terkait kilas balik pengalaman sebagai guru selama ini.

Berikut ini pertanyaan-pertanyaan dan respons yang saya berikan.

Sebagai pendidik, Anda tentu pernah berada dalam suatu peristiwa yang  membuat Anda merasakan emosi-emosi positif, misalnya optimis, senang, cinta, bahagia, atau takjub, dan sebagainya. Refleksikan:

  1. Apa kejadiannya?  ⟮Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang membuat Anda memilih  merefleksikan peristiwa tersebut?) 
  2. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut? 
  3. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik?

Respons:

  • Saya merasakan emosi positif seperti senang, optimis, dan bahagia ketika siswa menunjukkan respons positif terhadap pembelajaran yang saya laksanakan di kelas. Peristiwa ini terjadi pada bulan oktober 2021, ketika pembelajaran tatap muka terbatas mulai dilakukan setelah lama siswa mengikuti PJJ. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, antusias mengikuti kegiatan diskusi, dan bersama-sama menggali pengetahuan. Peristiwa ini penting karena siswa merasakan dampak dari pembelajaran, yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan.
  • Saya berperan sebagai pelaku ⟮subjek). Untuk mengelola emosi tersebut, saya lebih bersemangat melakukan pembelajaran serupa di kelas lain. 
  • Peristiwa tersebut sangat berdampak bagi saya sebagai pendidik, yaitu memberikan dorongan untuk terus berinovasi dalam pembelajaran. Saya merasa tertantang untuk mengembangkan pembelajaran agar tetap berdampak positif bagi siswa. 

Saat menjadi pendidik, Anda tentu juga pernah berada dalam suatu peristiwa yang memicu emosi-emosi negatif misalnya marah,  sedih, kecewa,  menyesal, khawatir, dan sebagainya. Refleksikan:

  1. Apa kejadiannya?  ⟮Kapan, di mana, siapa yang terlibat, bagaimana kejadiannya, apa yang membuat Anda  memilih  merefleksikan peristiwa tersebut?)
  2. Apa peran Anda saat itu? Apa yang Anda lakukan untuk merespon dan mengelola emosi tersebut?
  3. Bagaimana peristiwa tersebut berdampak pada diri Anda sebagai pendidik? 

Respons:

  • Saya merasakan emosi negatif ketika ada siswa yang tidak bisa melanjutkan pendidikan. Kejadian ini terjadi pada bulan agustus 2019. Seorang siswa tidak hadir berturut-turut lebih dari 1 minggu tanpa keterangan. Setelah dilakukan home visit bersama guru BK, diperoleh informasi siswa tersebut tidak bisa ke sekolah karena membantu ibu bekerja, ayahnya sudah meninggal. Setelah difasilitasi, siswa tetap tidak bisa melanjutkan pendidikan karena waktu bekerjanya bersamaan dengan waktu sekolah. Peristiwa ini penting, karena memberikan pukulan pada saya sebagai pendidik tentang keadaan ekonomi yang ada di masyarakat berpengaruh pada kesempatan memperoleh pendidikan.
  • Peran saya sebagai walikelas. Saya berupaya mencari solusi misalnya bantuan biaya sekolah. Tetapi biaya hidup siswa dan keluarganya menjadi tanggungan siswa tersebut.
  • Saya merasa kasihan dan menyesal karena siswa harus putus sekolah. Atas peristiwa ini, saya selalu berdoa agar semua siswa diberikan kelancaran dalam menghadapi masalah ekonomi. Saya juga berinisiatif menyumbang secara rutin pada yayasan yang membina anak-anak kurang mampu. 

Tulislah 1-3 kegiatan yang telah Anda pilih di atas yang paling sering Anda lakukan! Kemudian, jelaskan motivasi/tujuan Anda dalam melakukan kegiatan tersebut!

  • Memberikan kesempatan pada murid untuk merefleksi proses pembelajaran yang sudah diikuti ⟮apa yang disukai/mudah/menantang/ingin dipelajari lebih lanjut sebelum melanjutkan pembelajaran berikutnya). Alasan saya melakukannya adalah untuk mengetahui perasaan siswa setelah pembelajaran. Ini penting agar saya bisa menyesuaikan pembelajaran berikutnya dengan apa yang diinginkan siswa.
  • Melibatkan murid dalam membuat kesepakatan kelas agar kelas aman dan nyaman. Dengan melibatkan siswa dalam membuat kesepakatan kelas, saya telah membentuk budaya positif di kelas. Aturan yang dibuat sendiri oleh siswa dan disepakati bersama akan memberikan pengaruh positif pada tingkah laku seharihari siswa, sehingga terciptanya budaya positif di kelas dan sekolah.

Berdasarkan jawaban yang Anda berikan tadi, Sejauh ini, apakah Anda sudah dapat melakukan kegiatan tersebut secara konsisten? Jika “Ya”, apakah faktor pendukungnya? Jika “Tidak”, apakah tantangan yang Anda hadapi? Apakah ada yang Anda lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut? Bagaimana hasilnya?

Respons:
Sudah dapat saya lakukan secara konsisten. Faktor pendukungnya adalah kesadaran untuk melakukan perubahan, di samping ada dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat. 

Harapan dan Ekspektasi bagi diri sendiri

Saya ingin mempelajari lebih lanjut mengenai cara-cara mengelola emosi dalam diri, dan cara membangun hubungan sosial yang baik. Setelah mempelajari modul ini, saya berharap bisa menerapkan cara mengelola hubungan baik dengan rekan sejawat dan atasan, mampu mengelola emosi dalam diri, dan menggunakan kesadaran penuh dalam mengelola emosi.

Harapan dan Ekspektasi bagi murid-murid 

Harapan bagi siswa adalah dapat mengelola emosi dengan kesadaran penuh dan mengelola hubungan sosial dengan sesama siswa, guru, masyarakat dengan baik.

Demikian pertanyaan-pertanyaan dan resons yang saya berikan terkait pengalaman sebagai guru. Somoga bermanfaat!

Wednesday, February 23, 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1 | Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.1 | Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi

Koneksi antar materi Modul 2.1 berisikan kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana pembejaran berdiferensiasi dapat dilakukan di kelas. Serta bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Kemudian menjelaskan keterkaitan antara materi dalam modul 2.1 dengan modul 1 di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Pertanyaan Pemantik

    Pertanyaan Pemantik untuk sesi pembelajaran ini adalah:
  • Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari apa telah saya pelajari?
  • Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?
Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa tersebut. Atau dengan kata lain Pembelajaran Berdiferensiasi adalah Pembelajaran yang berorientasi kepada kebutuhan murid.

Hal ini sesuai dengan filosofi pemikiran KHD antara lain :

  • Pendidikan harus menuntun anak mencapai kodratnya karena setiap anak adalah pribadi yang berbeda dan memiliki keunikannya masing-masing yang harus ditumbuh kembangkan sesuai dengan potensinya.

Guru harus menjadi sosok pamong yang memberi arahan dan menuntun agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.

Dengan Demikian pembelajaran berdiferensiasi penting untuk dilakukan dengan mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Untuk itu diperlukan usaha untuk memenuhi kebutuhan belajar individu tiap murid sesuai dengan profil belajar murid, kesiapan belajar murid dan minat belajar murid.

Pembelajaran Berdiferensiasi, Harus!

Pembelajaran berdifrensisasi perlu untuk dilakukan hal ini dikarenakan:

  • Tujuan pembelajaran didefinisikan secara jelas
  • Merespon kebutuhan belajar murid
  • lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar
  • Manajemen kelas yang efektif
  • Penilaian berkelanjutan

Hal Apa saja yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran berdifrensiasi?

Kebutuhan Belajar Murid meliputi :

  • Kesiapan belajar (readiness)

yaitu kapasitas murid untuk mempelajari materi baru.

  • Minat murid

Minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran.

  • Profil belajar murid

Menurut Tomlinson (dalam Hockett, 2018) profil belajar murid ini merupakan pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya berpikir, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dll

Bagaimana mewujudkan pembelajaran diferensiasi dalam pembelajaran

Pembelajaran seharusnya dirancang: guru harus memahami bakat dan potensi yang tedapat dalam diri tiap murid, guru seyogyanya melakasanakan pembelajaran sesuai kebutuhan murid agar tercapai tujuan pembelajaran, guru memberikan berbagai macam media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid karena siswa mampu memahami belajar dengan cara yang berbeda serta kurikulum hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan murid untuk menghadapi tantangan zaman.

Pembelajaran dilaksanakan: Saat pembelajaran, guru harus membuat strategi pembelajaran kepada murid yang beragam. Serta media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar murid agar murid mudah memahami tujuan pembelajaran, pembelajaran yang diberikan juga memberikan motivasi akan potensi yang dimiliki oleh masing-masing murid agar potensi dan bakat murid dapat tumbuh dan berkembang.

Evaluasi: Guru melakukan refleksi setiap melakukan pembelajaran untuk memperbaiki tiap strategi, media, dan komunikasi saat melakukan pembelajaran kepada murid yang beragam pada tiap kelas. Serta memahami keragaman murid akan potensi yang dimiliki oleh murid.

Pembelajaran berdiferensiasi dapat terwujud dengan menggunakan startegi pembelajaran sebagai berikut:

  • Diferensiasi Konten (terkait apa yang kita ajarkan pada murid)
  • Diferensiasi Proses (Mengacu padabagaimana murid memahami materi
  • Diferensiasi Produk (Terkait bukti yang menunjukkan apa yang murid telah pahami

Jelaskan bagaimana pemb-elajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Dalam proses melakukan pembelajaran berdifrensiasi , guru dapat melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar murid melalui tiga aspek, yaitu kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid. Sedangkan strategi diferensiasinya terdapat tiga strategi, yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. disamping itu perlu adanya diferensiasi lingkungan belajar yang agar tercipta kenyamanan dalam belajar.

Pembelajaran berdifrensiasi dapat dilakukan melalui berbagai macam metode dan teknik pembelajaran yang diberikan kepada murid sesuai dengan kebutuhan belajar murid yang diperoleh dari asesmen diagnostik dan asesmen non kognitif pada murid. Hal ini perlu dilakukan karena setiap murid memiliki bakat dan minat sesuai dengan pendapat Howard Gardner berupa kecerdasan majemuk.

Guru bisa membuat perencanaan pembelajaran yang sesuai untuk kelas dan murid-muridnya. Dalam satu tujuan belajar, guru dapat menyiapkan konten belajar yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh siswa yang berbeda-beda.

Dalam Proses pembelajaran dilaksanakan dengan membedakan macam-macam bantuan belajar yang dapat mendukung murid untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran. Misalnya Scaffolding, coaching, serta , mentoring agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. serta melakukan diferensiasi produk belajar dengan memberikan keleluasaan siswa untuk memilih jenis produk dan cara mengomunikasikan hasil kerjanya.

Koneksi Antar Materi

Filosofi Pembelajaran KHD menegaskan bahwa pendidikan harus berpihak pada murid. Hal ini selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi, dimana pembelajaran berorientasi kepada kebutuhan murid.

Dalam memetakan kebutuhan belajar murid dibutuhkan guru yang memiliki nilai reflektif terhadap proses pembelajaran yang sudah dilaluinya bersama murid; harus inovatif membuat media pembelajarn yang sesuai dengan kebutuhan murid; dan harus mampu berkolaborasi dengan murid, sesama guru, dan orang tua murid untuk mendapatkan informasi tentang karakter belajar murid.

Oleh karena itu agar tercipta pembelajaran berdiferensiasi, kita sebagai pendidik harus memaknai filosofi KHD dengan seksama, untuk wujdukan profil pelajar Pancasila, dengan menjalankan budaya positif, serta memahami lima kebutuhan dasar manusia dengan membedakan lima posisi kontrol kita sebagai seorang guru. Dari beberapa koneksi materi ini maka akan terwujud murid yang memiliki karkater profil pancasila, berjiwa budaya positif serta terampil sesuai kodrat zaman dan kodrat alam.